Tampilkan postingan dengan label Manajemen Qalbu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Qalbu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2009

Cahaya Ilahi Dalam Hati Manusia


Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Tempat terbitnya berbagai cahaya Ilahi itu dalam hati manusia dan rahasia-rahasianya.
Bintang ilmu dan bulan makrifat dan matahari tauhid semuanya bersarang dan terbit hanya pada hati manusia. Rasulullah Saw. bersabda: Allah telah berfirman, "Tidak cukup untuk-Ku langit dan bumi-Ku, tetapi yang cukup bagi-Ku hanya hati hamba-Ku yang beriman.

Alhamdulillaahirabbil'aalamiin, Allahuma shalli 'ala Muhammad wa'ala aalihi washahbihii ajmai'iin.

Saudaraku yang baik, Abdul Hasan Asy-Syadzily berkata: "Andaikan Allah membuka penerangan nur seorang Mukmin yang berbuat dosa, niscaya memenuhi antara langit dan bumi, maka bagaimanakah dengan nur cahaya seorang mukmin yang taat."

Abul Hasan Almarsy berkata: "Andaikan Allah membuka hakikat kewalian seorang wali, niscaya akan disembah orang, sebab ia bersifat dengan sifat-sifat Allah Swt."

Andaikan Allah Swt. membuka nur cahaya hati para walinya, niscaya akan sirna cahaya matahari. Nur matahari dan bulan dapat hapus dengan gerhana, sedang nur para wali itu tidak ada gerhananya. Sesungguhnya matahari terbenam di waktu malam. Sedang matahari hati itu tidak terbenam untuk selamanya.

(MQmedia)***
manajemenqolbu.com
READ MORE - Cahaya Ilahi Dalam Hati Manusia

Bersabar Dalam Kesedihan


Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Alhamdulillaahirabbil'aalamiin, Allahuma shalli 'ala Muhammad wa'ala aalihi washahbihii ajmai'iin.

Saudaraku yang baik, kesedihan adalah perangkat yang akan memperindah hidup kita. Ada kalanya kesedihan bisa membuat kita mengevaluasi diri kita. Dan, tidak jarang pula dengan kesedihan, justru membuat kita semakin akrab dengan Sang Maha Pencipta, Allah Swt.

Namun, kesedihan dapat juga berakibat buruk, jikalau kita selalu mengekpresikannya kepada siapapun, atau menceritakan kepada orang yang kita temui. Bahkan tidak jarang kita turut mendramatisir, sehingga kita lebih menderita daripada kesedihan yang sesungguhnya.

Saudara, pemimpin sejati yakni pemimpin yang bisa memimpin bawahannya. Yang dapat merasakan penderitaan yang dipimpinnya. Pemimpin sejati tidak menghiba-hiba atau meminta belas kasihan orang lain, karena hanya akan menjadi sesuatu yang menghinakan dirinya. Saudaraku, kesedihan hanyalah sebuah episode, yang akan mengangkat derajat kita. Dengan syarat, kita menyikapinya dengan penuh kesabaran. Wallahu a’lam. (and/) © 2003***

manajemenqolbu.com
READ MORE - Bersabar Dalam Kesedihan

Bahagia Mendidik Anak


Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Anak adalah amanat Sang Pencipta pada orang tua, keluarga dan masyarakat. Ia harus dibimbing dan dipelihara sebagai aset masa depan. Wajah masa depan sebuah negeri dapat dilihat dari bagaimana kualitas anak-anak masa kini.

Saudaraku, yang namanya anak tidak sebatas anak kecil saja, tetapi juga remaja bahkan dewasa sepanjang mereka masih menjadi bagian dari tanggung jawab orang tuanya (baca: belum menikah). Permasalahan anak bukan permasalahan sepele karena menyangkut tanggung jawab kepada Allah Swt. sebagai Pemberi Amanah. Allah Swt. menjadikan anak sebagai ujian bagi kedua orang tuanya sekaligus sebagai anugerah penerus keturunan dan tabungan kebaikan manakala orang tuanya sudah meninggal.

Kedudukan anak sebagai ujian terjadi tatkala orang tua harus berhadapan dengan bagaimana cara memperlakukan, membina dan membimbingnya agar ia tumbuh menjadi bagian dari generasi unggul. Keunggulan di sini meliputi keunggulan secara moral, keilmuan serta fisiknya dan tidak menjadi generasi yang hanya membebani orang lain.

Tanggung jawab ini menjadi ladang bagi ibu-bapak dalam menanamkan akhlak yang baik sebagai landasan bertindak dan berprilaku ke depannya. Karena itu, Islam sangat menekankan arti penting hubungan positif antara anak dengan orang tuanya sebelum yang bersangkutan berhubungan baik kepada dirinya sendiri dan orang lain.

***

Secara umum ada tiga lingkungan yang sangat memengaruhi kualitas mental dan spiritual anak, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan sosial budaya yang berhubungan dengan nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku di masyarakat, termasuk di dalamnya pengaruh televisi, buku dan media massa.

Ketiga lingkungan tersebut saling menopang dalam memengaruhi perkembangan dan pembentukan karakter anak. Sebenarnya, lingkungan kedua dan ketiga dapat dikontrol pengaruhnya jika lingkungan pertama yakni orang tua-dalam hal ini keluarga-mampu memaksimalkan perhatiannya terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anak.

Kita sangat paham bahwa anak adalah makhluk aktif yang tengah dalam penjelajahan mencari dunianya. Ia membutuhkan pemandu agar ia tidak salah dalam memilih jalan hidupnya. Pemandu itu tidak lain adalah orang tua dan para pendidik (guru). Karena itu, orang tua ataupun guru, sebagai pendidik normal, perlu memahami bagaimana cara menumbuh kembangkan anak, serta memahami pula teknik-teknik bagaimana berinteraksi dengan anak yang sesuai dengan aqidah dan syariat Islam serta fleksibel dengan tuntutan jaman.

***

Saudaraku, mendidik anak bukanlah sebuah prosedur khusus atau sebuah kursus dengan kurikulum tertentu yang menjadikan anak sebagai peserta wajibnya. Jika cara pandangnya seperti itu, perlakuan kita kepada anak menjadi tidak "manusiawi" lagi. Anak sepertinya harus tumbuh sesuai dengan 'keinginan' orang tua sehingga kreativitasnya terhambat. Padahal setiap anak memiliki potensi yang berbeda.

Masalahnya sekarang, bagaimana para pendidiknya (baca: orang tua dan guru) mampu mendampingi anak menemukan dirinya. Caranya tentu tidak sekaku arena pendidikan formal seperti halnya sebuah kursus, melainkan lewat peristiwa sehari-hari yang mampu memasukkan unsur-unsur pendidikan di dalamnya.

Ada beberapa hal yang dapat kita terapkan saat mendidik anak, di antaranya:

1. Membantu anak berfikir kreatif
Kita bisa melatih anak berpikir kreatif dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu, dan anak diminta untuk memberikan alasan tentang apa-apa yang kita tanyakan. Misal, kenapa kita harus mandi tiap hari. Biarkan anak bereksplorasi dengan jawaban-jawabannya. Jangan menyalahkan jawabannya sekalipun itu salah. Ajaklah anak mengembangkan pikirannya dengan mencari alternatif jawaban lainnya, seperti pertanyaan, "Terus apa lagi?" dan seterusnya.

2. Melatih anak berdikusi
Ketika anak mengungkapkan sebuah pendapat, ajaklah dia untuk menemukan alasan kenapa ia mengungkapkan hal tersebut. Perlihatkan keingintahuan kita terhadap apa yang diungkapkannya. Tapi jangan menggiringnya pada jawaban yang 'seharusnya' atau diinginkan orang tua, seperti dengan menyudutkannya untuk memberikan alasan yang jelas. Hal tersebut akan mengakibatkan anak mencari alasan yang lain yang bisa menyenangkan (memuaskan) orang tua padahal itu bukan alasannya.

3. Menanamkan kebiasaan membaca
Untuk menumbuhkan minat baca pada anak, kita tidak perlu menunggu dia berumur dua hingga enam tahun. Kita bisa melakukannya saat anak masih berusia empat bulan! Tujuannya tentu bukan agar si anak memahami isi bacaan, akan tetapi merangsang aspek-aspek psikisnya. Bukunya pun lebih yang berbentuk buku bergambar yang berwarna warni dan sedikit kata. Hal tersebut penting untuk merangsang kemampuan kognisi, komunikasi, sosial dan afeksi anak. Keikutsertaan anak memegam buku pun akan membuat ia terlibat secara emosional.

4. Menghindari kesalahan memotivasi anak
Membuat anak bersalah ketika ia tidak berbuat sesuai dengan keinginan orang tua dengan harapan anak termotivasi untuk berbuat lebih baik (baca: menurut orang tua), justru akan membuat anak tidak percaya diri. Demikian juga jika kita membandingkan anak dengan orang lain yang dianggap lebih. Alih-alih termotivasi untuk berbuat seperti orang lain tersebut, anak akan merasakan bahwa dirinya lemah dan tidak berharga. Pendampingan, sikap terbuka dan mau mendengarkan dari orang tua, jauh lebih berharga bagi anak daripada memotivasi dengan cara yang salah.

Semoga Allah Swt. mengaruniakan kita anak yang shalih dan mengaruniakan pula kemampuan untuk mendidiknya secara benar. Wallahu alam bish-shawab ***

MQ Media
READ MORE - Bahagia Mendidik Anak

Berkerja Keras dengan Cerdas


Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Alhamdulillaahirabbil 'aalamiin, Allahuma shalli 'ala Muhammad wa'ala aalihi washahbihii ajmai'iin.

Saudaraku yang baik, semoga Allah mengaruniakan semangat kepada kita untuk senantiasa melakukan yang terbaik dalam hidup ini. Karena, itulah kunci meraih prestasi dalam segala hal. Semangat bekerja keras harus ada dalam diri. Dengan bekal semangat bekerja keras, diharapkan kita mampu berbuat semaksimal mungkin yang kita kerjakan.

Saudaraku, ternyata tidak cukup hanya kerja keras semata. Manusia juga membutuhkan kecerdasan dalam menjalankan aktivitasnya, agar hasil yang diharapkan dapat lebih optimal, dan jauh lebih baik dari sebelumnya. Kita tidak mungkin hanya mengandalkan kondisi fisik semata saat bekerja, karena kemampuan fisik manusia sangat terbatas. Ada potensi lain yang sesungguhnya dapat kita gali dan manfaatkan, yaitu potensi akal. Itulah yang disebut dengan bekerja cerdas. Jadi, kita bekerja dengan ilmu. Karena, ada orang yang kelihatannya sibuk sekali, pontang-panting tetapi hasil ia dapatkan tidak optimal. Malah, bisa jadi kesalahan yang didapatkan.

Saudaraku, minimal kita mengetahui dengan jelas tentang pekerjaan atau apa saja yang kita lakukan. Bagaimana caranya, apa yang harus dilakukan jika ada masalah. Dengan siapa kita dapat bekerjasama, dan segala hal yang menyakut pekerjaan kita. Lebih baik lagi, jika kita terus menambah ilmu, pemahaman agar dapat terus meningkatkan kualitas diri. Dan, orang seperti inilah yang akan bertahan, berprestasi dan memperoleh kesuksesan dalam karirnya.

Saudaraku, selain potensi jasad, dan akal, dimanfaatkan, yaitu potensi hati. Artinya, setelah kita sukses bekerja keras dengan cerdas, kita juga harus ikhlas. Amalan hati ini memang tidak mudah untuk dilakukan. Apalagi, ketika kita merasa sudah mampu menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik, kadangkala kita tidak hati-hati, terselip rasa riya (sombong) atau sombong. Menganggap bahwa keberhasilan itu adalah karena usaha kita berpayah-payah, Sehingga kita harus tetap mengikhtiarkan agar sikap ikhlas, mengharap keridhaan Allah tetap menjadi tujuan kita dalam segala aktivitas.

Itulah tiga potensi penting manusia yang telah diberikan Allah agar dapat mengoptimalkan setiap aktivitasnya. Porsi potensi fisik, akal, dan hati haruslah seimbang. Salah satu tidak boleh terlalu mendominasi yang lainnya. Fisik saja, tentu lelah yang akan didapatkan. Akal saja, bisa jadi berbuah kesombongan. Hati saja, tentu sebagai manusia kita juga diharuskan berikhtiar dengan optimal. Karunia Allah tidak datang begitu saja tanpa ada usaha dari setiap makhluknya. Semoga kita digolongkan sebagai orang yang mampu bekerja keras dengan cerdas dan ikhlas, sehingga bermakna bagi dunia, dan berarti pula bagi akhirat, wallahu'alam. (yn/mq)***


Manajemenqolbu.com
READ MORE - Berkerja Keras dengan Cerdas

Agar Terhindar dari Rasa Takut


Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Alhamdulillaahirabbil'aalamiin, Allahuma shalli 'ala Muhammad waala aalihi washaabihii ajmai'iin, Saudaraku yang budiman, semoga Allah melindungi kita dari kemurungan, kepedihan yang membuat hidup ini tidak ternikmati.

Ada juga yang harus kita mintakan kepada Allah, supaya kita tidak lemah dan tidak malas. Karena berapa banyak nikmat yang Allah berikan, tidak dapat kita jemput, akibat kelemahan dan kemalasan. Dan kita pun, harus berlindung kepada Allah dari rasa ketakutan, dan juga kekikiran.

Karena ternyata, hidup tidak akan ternikmati. Jikalau, tercekam takut dan hidup pun akan terhina, kalau kita dikenal sebagai orang yang kikir, dan takut miskin.

Dan tak kalah pentingnya kita pun harus minta kepada Allah, supaya terbebas dari lilitan hutang piutang, yang membuat perkataan kita mudah berdusta, yang membuat janji mudah tidak di tepati, yang membuat hidup ini semakin sempit.

Apalagi, bila hutang akan menimbulkan kekerasan dari orang-lain.

Ada do’a yang dipanjatkan Rasulullah, untuk mengatasi kemurungan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, ketakutan, kekikiran, paksaan, dan hutang piutang. Yaitu :

Allahuma inni a’uudzu bika minal hammi wal hazani, wa a’uudzu bika minal ajzi wa kasali, jubni wa a’uudzu bika minal wa bukhli wa a’uudzu bika min ghalabatiddaini wa qahrirrijal (Do’a Rasulullah).

Artinya,“Ya Allah Aku berlindung kepada-Mu dari kemurungan dan kesusahan, aku berlindung pada-Mu dari kemalasan, dan dari ketakutan dan kekikiran aku berlindung pada-Mu dari tekanan hutang dan paksaan orang lain. Wallahu'alam.(and/fyqn/yna) © 2003

manajemenqolbu.com***
READ MORE - Agar Terhindar dari Rasa Takut