Tampilkan postingan dengan label AQIDAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AQIDAH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2009

Tafsir Ayat 67 At-Taubah dan Dzat Tuhan

Langsung saja pada permasalahan: Dalam Al-Quran Tardjamah Djawi yang dikeluarkan oleh Penjiaran Islam Ngajogjakarta (asli ejaan lama), pada surah At-Taubah ayat 67, saya jumpai kejanggalan tafsir dalam salah satu kalimatnya. Adapun bunyi tafsir lengkapnya pada ayat 67 itu adalah sebagai berikut:

"Wong-wong munafik lanang lan wadon iku sawenehe pada prentah laku mungkar (ala) marang saweneh lijane, lan pada njegah saka laku betjik serta pada anggegem tangane (kumet), apa dene pada lali ing Allah. Pandjenengane Allah uga supe marang wong-wong mahu. Satemen wong-wong munafik iku pada duraka"

Yang saya anggap janggal adalah kalimat: Pandjenengane Allah uga supe. Allah kok supe (lupa). Padahal Allah adalah: "Dzat yang tidak tidur dan tidak lupa (mboten sare lan mboten supe)."

Mohon bapak Kiai berkenan menjelaskannya. Terima Kasih

S. Soemanto Mijen, Semarang.


Jawab:

Bapak Soemanto, ayat 67 surah 9 At-Taubah ini turun dan berbicara tentang orang-orang munafik yang sikap dan perilakunya bertolak belakang dengan orang-orang mukmin, yang terjemahannya sebagai berikut:

"Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan sama saja, mereka suka menganjurkan perkara mungkar, mencegah yang makruf, dan menggenggam tangan mereka (kikir). Mereka melupakan Allah, maka Allah pun melupakan mereka. Sungguh orang-orang munafiklah orang-orang yang fasik"

Ini adalah terjemahan agak bebas versi saya. Bagaimana? Apakah anda merasa janggal juga membacanya?

"Mereka melupakan Allah, maka Allah pun melupakan mereka" mungkin tidak begitu berbeda dengan misalnya, "Mereka melupakan Allah; lalu Allah melupakan mereka" (Tafsir Prof. Dr Machmud Yunus), atau dengan "Mereka lupa akan Allah, karena itu (Allah) pun lupa akan mereka". (Terjemah Departemen Agama RI dan Tafsir al-Maraghi).

Tapi dengan "apa dene pada lali Allah. Panjenengane Allah uga supe marang wong-wong mahu". Anda barangkali bisa merasakan perbedaannya.

Ya, seandainya saya boleh mengusulkan kepada Penyiaran Islam Ngayogyakarta yang menerbitkan tafsir itu, mungkin saya hanya mengusulkan agar setelah kata "supe" diberi keterangan (bisa dalam kurung, bisa langsung); seperti misalnya dalam tafsir al-Ibriz-nya KH Bisri Mustofa: "...pada lali marang Allah, mula deweke pada dilalekke dining Allah ta'ala, tegese ora diwelasi...."

Bapak Soemanto, Al-Quran seperti kita maklumi, adalah firman Allah kepada kita, para hamba-Nya yang mempunyai jangkauan pemahaman terbatas ini. Oleh karenanya, kita dalam melihat di dalamnya, banyak ungkapan yang sebenarnya tidak untuk kita dan atau di luar jangkauan kita, menggunakan peristilahan seperti yang kita gunakan untuk dan tentang kita juga. Hal itu ---Wallahu A'lam--- dimaksudkan untuk lebih mendekatkan pemahaman kita terhadap makna firman yang bersangkutan.

Di dalam Al-Quran itu misalnya, banyak kita jumpai ungkapan seperti"

yadullahi ("Tangan Allah"), Wajhullahi ("Wajah Allah"), A'yuninaa ("Mata Kami"). Istawaa 'Alal'arsyi ("duduk di atas singgasana") Tidak mungkin 'kan Allah mempunyai tangan seperti kita, maka para mufassir pun memberi keterangan: yang dimaksud dengan "tangan Allah" adalah kekuasaan-Nya. Demikian pula dengan "wajah" yang berarti Dzat-Nya, "mata" yang berarti pengawasan-Nya dan seterusnya.

Di samping itu ada juga firman yang menggunakan ungkapan sekedar "bandingan" seperti misalnya:

"Mereka (orang-orang) kafir itu membuat tipu daya dan Allah pun (membalas) membuat tipu daya. dan Allah adalah sehebat-hebat pembuat tipu daya" (QS 3. Ali Imran: 54)

Untuk membandingi tipu daya mereka. Allah pun mengistilahkan cobaan atau adzabnya kepada mereka dengan "tipu daya" pula. Seperti halnya juga istilah "supe" dalam ayat 67 at-Taubah yang kita bicarakan sekarang ini. Karena orang-orang munafik itu pada lupa akan Allah, maka Ia pun melupakan mereka. Mengabaikan dan tak mengindahkan mereka. []


KH. Mustofa Bisri
sumber : pesantrenvirtual.com
READ MORE - Tafsir Ayat 67 At-Taubah dan Dzat Tuhan

Penyebutan “Kami” untuk Allah SWT dalam Al-Qur‘an

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, karena Allah SWT, beberapa tahun yang lalu, saya menjadi seorang mualaf. Saya belum bisa membaca Quran, tapi kalau terjemahannya sudah sering saya baca. Pertanyaan saya menyangkut penyebutan/penulisan "Kami" untuk Allah SWT di terjemahan, dan jumlahnya cukup banyak. Sedangkan kata "kami", menurut aturan bahasa Indonesia itu menunjukan kata ganti orang pertama jamak, yang artinya lebih dari satu. Saya takut mengartikannya, sebab saya yakini bahwa Allah swt itu Esa, Satu dan Dzat yang sangat Ghaib. Mohon penjelasan. Terima kasih.

Wassalamualaikum. Wr. Wb.

Agus Widjaja


Jawaban:

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu 'ala Rasulillah, Waba'du.

Dalam bahasa Arab, dhamir 'nahnu' adalah bentuk kata ganti orang pertama dalam bentuk jamak yang berarti kita atau kami. Tapi dalam ilmu nahwu, maknanya bisa saja bukan kami tetapi aku, saya dan lain-lainnya.

Terkadang kita sering terjebak dengan pertanyaan seperti ini. Model pertanyaan seperti ini bisa jadi berangkat dari kepolosan dan keluguan, namun di sisi lain bisa jadi merupakan usaha untuk membodohi umat Islam yang awam dengan bahasa Arab dengan menggunakan pertanyaan menjebak ini. Hal ini tidak aneh dan sudah sering dilakukan. Dengan bekal kemampuan bahasa arab seadanya, pertanyaan seperti ini sering dijadikan senjata buat umat Islam yang minim ilmunya.

Tapi bagi mereka yang memahami bahasa Arab sebagai bahasa yang kaya dengan makna dan kandungan seni serta balaghah dan fashohah-nya, pertanyaan seperti ini terkesan lucu dan jenaka. Bagaimana mungkin aqidah Islam yang sangat logis dan kuat itu mau ditumbangkan cuma dengan bekal logika bahasa yang separo-separo.

Dalam ilmu bahasa arab, penggunaan banyak istilah dan kata itu tidak selalu bermakna zahir dan apa adanya. Sedangkan Al-Quran adalah kitab yang penuh dengan muatan nilai sastra tingkat tinggi. Kata 'Nahnu' tidak harus bermakna arti banyak, tetapi menunjukkan keagungan Allah SWT. Ini dipelajari dalam ilmu balaghah. Sebenarnya dalam bahasa Indonesia ada juga penggunaan kata "kami" tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang kepala sekolah dalam pidato sambutan pesta perpisahan anak sekolah berkata, "Kami sebagai kepala sekolah berpesan..." Padahal yang jadi kepala sekolah hanya dia seorang dan tidak beramai-ramai, tapi dia bilang "Kami". Lalu apakah kalimat itu menunjukkan bahwa kepala sekolah sebenarnya ada banyak atau hanya satu?

Kata kami dalam hal ini digunakan sebagai sebuah rasa bahasa dengan tujuan nilai kesopanan.

Tapi rasa bahasa ini mungkin tidak bisa dicerap oleh orang asing yang tidak mengerti rasa bahasa Indonesia. Atau mungkin juga karena di barat tidak lazim digunakan kata-kata seperti itu. Selain kata "nahnu", ada juga kata "antum" yang sering digunakan untuk menyapa lawan bicara meski hanya satu orang. Padahal makna "antum" adalah kalian (jamak). Secara rasa bahasa, bila kita menyapa lawan bicara kita dengan panggilan "antum", maka ada kesan sopan dan ramah serta penghormatan ketimbang menggunakan sapaan "anta".

Wallahu a'lam bishshawab.
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

Ahmad Sarwat, Lc.


eramuslim.com
READ MORE - Penyebutan “Kami” untuk Allah SWT dalam Al-Qur‘an

Penggunaan al-Qur'an Sebagai Zimat

Assalamualaikum wr.wb

Saya pernah membaca buku mujarrabat di situ telah dijelaskan tolak balak, zimat, mahabbah dan lain-lain apakah hal-hal seperti itu benar adanya? dan benar pula kasiatnya?

Saya pernah pula mambaca artikel agama bahwa zimat berarti syirik karena selain membawa-bawa tulisan yang mengandung al-Qur'an juga dapat menimbulkan syirik. Bagaimana ini yang benar Pak?

Wassalam'alaikum wr. wb.


Jawab:

Sayang sekali, tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai "bacaan-bacaannya" dan cara penggunaannya, sehingga kami tidak dapat memberi gambaran hukum yang kongkrit. Sehingga kami hanya mampu menyuguhkan gambaran-gambaran yang agak abstrak, karena masih lebih berada pada tataran teoritis.

Kita tahu, bahwa berdoa sangat dianjurkan dalam Islam. Dan Islam tidak meletakkan doa pada ruang dan waktu yang definitif. Bahkan dalam caranya pun, Islam tidak menggambarkannya dengan pola tertentu. Yang ada hanyalah "tatacara Islam" mengenai berdoa, yang di antaranya adalah :

Pertama: harus sopan (adab). Semakin sopan seseorang dalam berdoa, maka kesempatan mendekatkan diri kepada Allah semakin terbuka. Mengenai bagaimana agar seseorang dianggap sopan di hadapan Allah, ada "kiat-kiat" syar'iy tertentu, semisal berdoa sahabis salat malam, dengan hati yang tulus ikhlas dan lain sebagainya.

Kedua: harus tahu apa arti doanya, atau setidaknya yakin akan kebaikan doa yang hendak ia baca. Para ulama' menganggap penting syarat "harus tahu artinya" ini, karena ada sebagian wirid yang tidak jelas arti dan bahasanya. Doa-doa yang tidak jelas bahasanya ini banyak terdapat dalam buku-buku mujarrabat. Juga banyak terdapat dalam "rajah-rajah" yang tidak jelas sumbernya.

Dan ketiga: tidak berdoa untuk sesuatu yang dilarang oleh agama dan sesuatu yang mustahil.

***

Adapun mengenai zimat dan mahabbah bisa diterangkan dengan membuat abstraksi sebagai berikut: al-Qur'an diturunkan oleh Allah ke muka bumi sebagai kitab petunjuk (hidayah) dan bukan sebagai buku "klenik". Ia diturunkan untuk dibaca sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah untuk diresapi artinya agar lebih mengerti akan "hakikat". Namun begitu, al-Qur'an juga bisa digunakan untuk mendapatkan berkah, agar mendapatkan kesembuhan dari segala penyakit atau demi tujuan-tujuan lain yang dibenarkan oleh agama. Banyak riwayat-riwayat mengenai penggunaan al-Qur'an atau doa-doa lainnya sebagai "suwuk" atau mantra.

Diriwayatkan oleh 'Auf bin Malik, ia berkata: "Pada zaman Jahliyah dahulu kami menggunakan mantra, kemudian kami menanyakan pada Rasulullah: 'Bagaimana baginda melihat itu semua'. Kemudian beliau berkata: 'Perlihatkan mantra-mantra kalian kepadaku. Tidak ada larangan untuk mantra-mantra selama tidak berupa syirik.'" HR. Muslim no. 4079.

Lihat pula riwayat Bukhori no. 2115 tentang penggunaan surat al-Fatihah sebagai mantra, dan riwayat-riwayat lainnya. Dengan adanya riwayat-riwayat ini, lalu para ulama' menyimpulkan bahwa al Qur'an dan dzikir-dzikir lainnya dapat digunakan untuk mengambil berkah.

Namun permasalahannya menyangkut bagaimana caranya mengambil berkah al-Qur'an? Yang sudah pernah dijalankan pada zaman Rasulullah adalah dengan membacanya kemudian meniup dengan mulut, sebagaiman riwayat Bukhori no. 2115 itu.

Juga sebagaimana riwayat Bukhori nomor 5307 dari 'Aishah ra. ia berkata: Rasulullah jika berbaring di pembaringannya, selalu meniup di kedua telapak tangannya dengan "qul huwallaahu ahad" dan "mu'awwidzatain", kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangannya pada mukanya dan semua badan yang dapat disentuh oleh kedua tangannya. 'Aishah berkata: "Kemudian di saat Rasul sakit, beliau memerintahkan kepadaku agar saya melakukannya untuk beliau."

Kemudian, bagaimana hukumnya jika pengambilan berkah itu ditempuh dengan cara yang lain? Adakah demikian itu juga diperbolehkan?

Kita hendaknya mengambil kesepakatan dulu, bahwa tidak diperkenankan mengambil berkah al-Qur'an dengan cara-cara yang berimplikasi pada penghinaan terhadapnya, misalkan dengan cara menulis al-Qur'an dengan gaya terbalik atau dengan cara memenggalnya dari kesatuannya yang utuh atau dengan membacanya dengan bacaan yang tidak benar. Yang terakhir ini banyak diamalkan oleh dukun-dukun Jawa. Alasannya, begitulah mereka menerima ijazah dari guru-gurunya yang harus mereka ikuti. Bahkan menurut keyakinan mereka, jika dibaca dengan benar, itu bukan mantra namanya.

***

Sementara cara-cara yang tidak dianggap (atau masih debateble) mengandung penghinaan terhadap al-Qur'an (semisal zimat dalam bentuk kalung, sabuk atau yang lainnya), para ulama' berselisih pendapat. Sikap masing-masing ulama sangat ditentukan oleh metode yang mereka gunakan dalam memahami nas.

Dalam Musnad Ibnu Hanbal (16763), Rasulullah berkata: "Barang siapa menggantungkan zimat (di leher, pena) maka semoga Allah tidak meluluskan (tujuan)-nya".

Dan dalam riwayat lain, "Barang siapa menggantungkan zimat, maka ia telah melakukan syirik".

Dan dalam Musnad Abu Daud (3385), Rasul mengatakan: "Sesungguhnya mantra-mantra, zimat-zimat dan attiwalah (zimat yang tulis dalam kertas atau mantra yang dibaca agar sang suami selalu mencintai istrinya) adalah syirik".

Ulama yang tidak memperbolehkan cara-cara tsb. berpendapat, bahwa cara-cara demikian ini tidak pernah dilakukan pada masa Rasul, sementara hadis-hadis diatas terang-terang merupakan larangan, bahkan ada ancaman syirik bagi pelakunya. Sementara ulama' yang memberi kelonggaran, menganggap bahwa hadis-hadis di muka hanya menunjuk pada tradisi-tradisi klenik zaman Jahiliyah, dengan bukti bahwa "mantra" yang benar, seperti mantra yang menggunakan al-Qur'an atau bacaan-bacaan Islami lainnya diperbolehkan, dan bahkan diajarkan oleh Rasul. Adapun soal cara, tidak menjadi soal. Yang penting ada niat mengambil berkah dan tidak berimplikasi pada penghinaan terhadap al-Qur'an.

Adapun tuduhan syirik, saya kira terlalu berlebih-lebihan. Seorang muslim yang percaya dengan zimat, ia tidak menganggap bahwa zimat itu dapat menyembuhkan atau dapat menolak balak, tapi ia berharap, dengan barakah zimat itu, Allah berkenan mengabulkan keinginannya. Hadis-hadis yang mengandung ancaman syirik, lebih merupakan ancaman kepada tradisi Jahiliyah yang percaya terhadap kekuatan langsung zimat tersebut atau terhadap para makhluk halus yang menunggunya.

Harapan saya, semoga kaum muslimin lebih memahami Islam sebagai ajaran-ajaran yang mengarah pada penataan budaya yang ruhani, ketimbang memahaminya pada "tingkatan klenik".

Abdul Ghofur Maimoen
pesantrenvirtual.com
READ MORE - Penggunaan al-Qur'an Sebagai Zimat

Khasiat Surah Al-Waqi'ah

Saya mau menanyakan kepada Bapak KH. Mustofa Bisri:

Dalam "mujarrabat" terdapat surah Al-Waqi'ah. Saya ingin mengerti khasiatnya. Demikian pertanyaan dari saya Pak Mus agar dijawab dengan jelas sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

Ary Sutrisno - Purwodadi


Jawab:

Ada hadis yang diriwayatkan antara lain oleh al-Baihaqi dari shahabat Ibn Mas'ud r.a. yang berkata: 'Aku mendengar Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa membaca surah Al-Waqi'ah pada setiap malam, maka dia tidak akan menderita kemelaratan."

Kata seorang kiai sepuh, asal membacanya sambil memikirkan artinya, insya Allah surah Al-Waaqi'ah ini benar-benar mujarab untuk "menolak kemiskinan".

Mudah-mudahan cukup jelas.

Wallaahu A'lam.

KH. Mustofa Bisri

sumber : pesantrenvirtual.com
READ MORE - Khasiat Surah Al-Waqi'ah

Bagaimana Membuktikan Al-Qur'an Kalam Allah

Assalamu'alaikum wr. wb.

Saya Mohamad dari Malaysia ingin menanyakan satu soalan yang agak memusykilkan benak saya iaitu bagaimanakah kita hendak membuktikan Al-Quran itu adalah kalam Allah?

Jika tidak keberatan silakan panel explain dengan detail..sekian terima kasih.

Wassalamualaikum warahmatulullah

Mohamad


Jawab :

Bagaimanakah kita membuktikan Al-Quran itu adalah Kalam Allah?

Pertama, Al-Qur’an merupakan mu’jizat (tidak ada seorangpun yang bisa mendatangkan sepertinya, atau seperti surah di antara surah-surahnya). Mu’jizat ini hanya diberikan oleh Allah, kepada seorang rasulNya, sebagai bukti yang membenarkan bahwa ia benar-benar utusan Allah. Sebagai Mu'jizat Al-Qur'an tentu dari Allah. Dan memang sampai sekarang tidak ada seorangpun yang bisa mengarang sepertinya, sampai seperti surah yang paling pendek pun masih belum ada yang bisa mendatangkannya.

Pada waktu Al-Qur'an diturunkan, orang-orang Arab berada di puncak kefasihan berbahasa.Tapi ternyata tidak seorang pun dari mereka yang bisa membuat seperti Al-Qur'an. Berbagai usaha telah dilakukan oleh sebagian penyair mereka. Tapi usaha mereka gagal. Bahkan mereka sendiri mengakui bahwa Al-Qur'an memang bukan karangan manusia.

Imam Az Zarkasyi menyebutkan bahwa mukjizat Al-Qur'an nampak dari segala sisi (lihat Al Burhan fi ulumil Qur'an, oleh Az Zarkasyi : Jilid:2, hal:237, Darul Ma'rifah, Bairut1990) : dari rangkaian katanya yang indah "balaghah", susunan ayat-ayat dan surah-surahnya, kebenaran isinya, kesesuaian informasinya dengan penemuan final ilmu pengetahuan.

Kedua, memang ada tuduhan bahwa Al-Qur'an karangan Nabi Muhammad SAW, namun kemudian Imam Al-Baqillani dalam bukunya Ijazul Qur'an, mencoba membandingkan antara hadits-hadits Nabi dan ayat-ayat Al-Qur'an, hasilnya sebuah kesimpulan bahwa Al-Qur'an bukan karangan Nabi. Al-Qur'an kalam Allah. Sampai-sampai Al Baqillani menantang. Kalau masih belum percaya silahkan kumpulkan hadits-hadits Nabi – ujar Al Baqillani -, lalu susunlah sebagaimana susunan Al-Qur'an, anda akan menemukan susunan yang tidak berkaitan antara satu hadits dengan lainnya. Bandingkan dengan Al-Qur'an, teliti susunan ayatnya, sunan surah-surahnya, anda akan menemukan suatu keterpaduan, saling berkaitan dari awal sampai akhir. Padahal ia diturunkan secara berangsur-angsur.

Para Ulama sepanjang sejarah telah membuktikan hakikat kesatuan Al-Qur'an dengan susunannya yang ada. Di tambah lagi bahwa di dalam Al-Qur'an banyak "khitab" yang ditujukan kepada Rasulullah. Bahkan ada yang berupa teguran seperti yang terdapat dalam surat "At Tahrim", Rasulullah ditegur langsung karena mengharamkan madu pada dirinya, untuk menjaga perasaan istrinya yang tidak suka bau madu yang diminumnya.

Di permulaan surat "Abasa" juga teguran kepada Rasulullah kerena beliau bermuka masam kepada Ibn Ummi Maktum yang pada waktu itu minta Rasulullah untuk mengajarkannya Al-Qur'an, sementara Rasulullah sedang sibuk dalam sebuah pertemuan dengan pemuka-pemuka Quraisy. Masuk akalkah seorang menegur dirinya senidiri dalam buku yang dikarangnya? Kalau memang benar Al-Qur'an karangan Muhammad SAW.

Ketiga, Al-Qur'an sendiri menyuruh Rasulullah SAW untuk menantang siapa saja yang dari mahluk yang ada, jin dan manusia untuk membuat sepertinya. Dalam (QS: Hud:13) perintah untuk Nabi agar menantang mereka supaya mendatangkan sepuluh surah. Dalam (QS:Yunus:38) perintah agar menantang mereka untuk mendatangkan satu surah. Pada (QS:Al Baqarah:23) juga demikian. Bahkan dalam (QS:Al Isra':88) Al-Qur'an menegaskan bahwa sekalipun jin dan manusia berkumpul untuk mengarang seperti Al-Qur'an tidak akan bisa. Dan sampai sekarang Al-Qur'an masih terus menantang, tapi tidak ada seorangpun yang bisa menjawab. Kalau memang karangan Nabi Muhammad SAW, mengapa pakai perintah? Dan bentuk perintah kepada Nabi Muhammad SAW, di dalam Al-Qur'an begitu banyak. Perhatikan saja tiga surah terkahir : Al Ikhalsh, Al Falaq dan An Nas. Semuanya dimulai dengan perintah "qul" ( katakan hai Muhammad ). Ini semua menunjukkan bahwa Al-Qur'an kalam Allah. Dan kalau Al-Qur'an karangan manusia, tentu tidak akan sampai sejauh ini berani menantang. Sementara Al-Qur'an akan terus menantang sampai hari Kiamat. Suatu bukti bahwa ia kalam Allah yang mu'jiz.

Keempat, Silahkan anda bandingkan antara penemuan ilmu pengetahuan yang sudah final (bukan teori), tentang alam, atau tentang tubuh manusia dan lain sebagianya, lalu bandingkan dengan penegasan Al-Qur'an, anda pasti akan mendapatkan hakikat yang sama. Mengapa, karena alam ini ciptaan Allah, dan Al-Qur'an kalamNya. Sudah demikian banyak para ulama mengungkap hal ini dalam pembahasan "al i'jazul ilmi lilqur'an". Adakah akal manusia sejak sekian abad silam, bisa menjangkau penemuan ilmu yang baru saja didapatkan tanpa sebuah penelitian?

Kelima, di dalam Al-Qur'an banyak informasi mengenai alam ghaib, seperti adanya surga dengan segala keindahannya, dan neraka dengan segala kepedihannya, adanya hari kiamat, dan seterusnya yang semuanya ini tidak mungkin dijangkau oleh akal manusia. Suatu bukti bahwa yang mempunyai informasi seperti ini hanya Dia yang menciptakan alam, dan yang menentukan akhir hidup manusia, yang mengatur kehidupan setelah matinya semua mahluk, dan yang membagi ada yang ke surga dan yeng ke neraka.

Semoga membantu, wassalamu 'alaikum wr.wb.

Dr. Amir Faishol Fath


sumber : pesantrenvirtual.com
READ MORE - Bagaimana Membuktikan Al-Qur'an Kalam Allah